BANGKA TENGAH – Sejumlah orang yang diduga mengaku sebagai petugas Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) mendatangi sebuah vila milik warga di kawasan Air Nonok, Desa Kulur Ilir, Kecamatan Lubuk Besar, pada Jumat malam (31/7/2026) pekan lalu.
Menurut keterangan Aben, penjaga vila, rombongan yang diperkirakan berjumlah lebih dari 16 orang itu datang menggunakan tiga kendaraan, yakni sebuah mobil pikap, satu unit Toyota Avanza berwarna hitam, dan satu unit Suzuki Ertiga berwarna putih.
“Yang datang tiga mobil. Di mobil pikap banyak orangnya. Ada yang membawa cangkul, parang, dan alat untuk menggali. Mereka langsung masuk lewat samping, tidak melalui pintu,” ujar Aben, Senin (3/8/26).
Aben mengaku sempat diinterogasi oleh seseorang yang mengaku sebagai petugas Satgas PKH. Orang tersebut disebut menanyakan keberadaan pasir timah maupun balok atau lempengan timah yang mereka yakini terkubur di dalam tanah dan disebut sebagai harta karun.
Bahkan, telepon genggam milik Aben juga disebut sempat diperiksa untuk memastikan tidak ada komunikasi terkait barang yang sedang mereka cari.
“Malam itu mereka datang berombongan, lebih dari 16 orang. Mereka masuk tanpa permisi. Saat saya tanya siapa dan dari mana asalnya, mereka menjawab Tidak perlu tahu kami dari mana, kamu diam saja. Tidak lama kemudian datang seseorang yang mengaku sebagai komandannya. Dia mengaku dari Satgas PKH dan mengatakan sedang mencari harta karun,” tuturnya.
Menurut Aben, saat dirinya meminta rombongan tersebut menunjukkan identitas maupun surat tugas, permintaan itu tidak dipenuhi. Mereka hanya mengaku berasal dari Satgas PKH dan meminta dirinya tidak banyak bertanya.
Tak hanya itu, Aben mengaku sempat dipaksa menunjukkan lokasi yang diduga menjadi tempat penyimpanan timah. Ia bahkan dijanjikan uang sebesar Rp1 miliar apabila dapat menunjukkan lokasi keberadaan balok maupun pasir timah yang dicari.
“Tunjukkan di mana lokasinya, saya gali malam ini. Jangan berbelit-belit, saya ke sini pakai biaya, jadi kamu kooperatif, ya. Kalau kamu tunjukkan dengan benar, besok pagi saya kasih Rp1 miliar tunai,” ucapnya dengan nada lembut tapi mengintimidasi, kata Aben.
Ia juga mengaku sempat merasa mengenali salah seorang yang berada di dalam mobil Ertiga putih. Namun, karena kondisi malam yang gelap dan jarak yang cukup jauh, dirinya tidak dapat memastikan identitas orang tersebut.
Meski sempat melakukan penggalian di tiga titik dengan kedalaman sekitar dua meter, rombongan tersebut dilaporkan tidak menemukan apa pun. Sebelum meninggalkan lokasi, mereka menutup kembali lubang galian atas permintaan penjaga vila.
Peristiwa tersebut menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Pasalnya, berdasarkan tugas pokok dan kewenangannya, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) tidak memiliki mandat untuk melakukan penggalian guna mencari harta karun, balok timah, maupun pasir timah.
Apabila benar terdapat pihak yang mengatasnamakan Satgas PKH untuk melakukan kegiatan di luar tugas dan kewenangannya, identitas serta legalitas kegiatan tersebut perlu diverifikasi oleh instansi yang berwenang.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang mengenai identitas rombongan maupun dasar hukum kegiatan yang dilakukan di lokasi.
Media ini masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak-pihak terkait guna memenuhi prinsip keberimbangan pemberitaan. (NP)
Penjaga Villa Ungkap Kedatangan Rombongan Mengaku Satgas PKH





